Indonesia memiliki potensi alam yang sangat dasyat untuk dikembangkan. Salah satu peluang usaha yang masih terbuka luas di bidang pertanian adalah BUDIDAYA JAMUR KONSUMSI. Budidaya jamur konsumsi masih sangat jarang kita temui padahal, kebutuhan akan produk pertanian ini semakin hari semakin meningkat. Kelebihan budidaya jamur konsumsi dibandingkan budidaya tanaman sayur komersial lain, antara lain Kemudahan memperoleh bibit, Murahnya media tanam· Aspek lokasi (cocok ditanam di sebagian wilayah Indonesia dan tidak membutuhkan area yang luas, Pasar yang masih terbuka luas, Cita rasa jamur yang enak
A. PEMBIBITAN
II. Morfologi Jamur Tiram
Jamur tiram (Pleurotus sp.) adalah jamur pangan tudung mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung dan berwarna putih hingga krem. Permukaan tudung jamur tiram licin, agak berminyak saat lembab dan tepiannya bergelombang. Diameternya mencapai 3 – 20 cm. Spora berbentuk batang berukuran 8 – 11 x 3 – 4 µm. Miselium berwarna putih dan bisa tumbuh dengan cepat.
III. Pembuatan Kumbung/Rumah Jamur
Rumah jamur yang dibuat haruslah memenuhi syarat tumbuh jamur konsumsi dan dibuat sebisa mungkin menyerupai habitat aslinya. Syarat yang harus dipenuhi dalam pembuatan rumah jamur adalah:
1) Kebersihan kumbung
2) Sirkulasi udara yang baik
3) Suhu dan kelembapan (22 – 30 0C)
4) Pencahayaan (ruangan harus redup/30%, tidak tembus cahaya matahari secara langsung)
5) Tertutup (agar tidak dimasuki serangga pengganggu)
Bentuk kumbung jamur umumnya seperti rumah biasa. Bahan yang digunakan biasanya adalah rangka yang dibuat mjenggunakan bambu dengan dinding anyaman bambu (gedeg) dan atap dari genting. Contoh ukuran kumbung yang ideal dalam budidaya jamur, yaitu ukuran 6 x 6 m (untuk kapasitas 2.500 log) atau 10 x 20 m (untuk kapasitas 10.000-15.000 log).
IV. Pembuatan Rak
Penataan baglog bisa ditata secara berdiri atau tidur. Untuk daerah yang memiliki cuaca panas dengan kelembapan yang kurang, baglog sebaiknya ditata tidur untuk mengurangi penguapan. Untuk daerah dingin, baglog bisa ditata secara berdiri atau tidur. Berdasarkan pengalaman, baglog yang ditata berdiri dapat menghasilkan jamur yang lebih besar.
· Rak untuk baglog berdiri
Ukuran rak menyesuaikan ukuran kumbung, misal ukuran 2 x 1 m dan jarak antar rak 0,75 m.
· Rak untuk baglog tidur
Struktur rak untuk baglog tidur terdiri dari batang tiang yang berbahan bambu dan penyangga baglog yang berbahan kayu atau bambu utuh. Jarak paling sesuai antar tiang adalah 1,5 m dan jarak antar kayu penyangga 50 cm. Jarak 50 cm bisa digunakan untuk 4-5 tumpukan baglog.
V. Pembuatan Media Tanam Baglog
Contoh komposisi baglog :
Bahan (g)
| ||||||||
Komposisi
|
Serbuk Kayu
|
Bekatul
|
Kapur
|
Gips
|
Tepung jagung
|
Tepung Tapioka
|
Sisa Kapas
|
Pupuk TSP
|
I
|
10.000
|
1.000
|
100
|
100
|
-
|
-
|
-
|
50
|
II
|
1.000
|
50
|
-
|
10
|
-
|
-
|
-
|
-
|
III
|
5.000
|
50
|
10
|
-
|
-
|
-
|
100
|
-
|
IV
|
100.000
|
500
|
10
|
-
|
400
|
-
|
-
|
-
|
V
|
100.000
|
15.000
|
5.000
|
1.000
|
-
|
-
|
-
|
-
|
VI
|
100.000
|
5.000
|
2.500
|
500
|
-
|
-
|
-
|
500
|
VII
|
100.000
|
10.000
|
2.500
|
500
|
-
|
-
|
-
|
500
|
VIII
|
100.000
|
10.000
|
5.000
|
1.000
|
-
|
5.000
|
-
|
500
|
Sumber: Budidaya Jamur, AgroMedia, Oleh H. Parjimo dan Drs. Agus Andoko
Langkah-langkah pembuatan baglog:
1. Pencampuran
Sebelum digunakan, serbuk kayu harus diayak terlebih dahulu menggunakan ayakan pasir. selanjutnya campur semua bahan. Tambahkan kadar air dengan melakukan penyimaran media.
2. Pengomposan
Pengomposan dilakukan dengan menumpuk media tanam yang sudah tercampur dengan rata setinggi 50 cm, kemudian tutup dengan lembaran plastic selama dua hari sampai suhunya mencapai 500C dengan kadar air 50 – 60% dan pH 6 – 7.
3. Pembungkusan
Media tanam dimasukkan ke dalam kantong plastic tebal berukuran 20 – 30 cm berkapasitas 1000 gram, kemudian padatkan. Pemadatan dilakukansampai media mencapai ketinggian sekitar 20 cm. tepat di tengah permukaan media dibuat lubang tanam kira-kira sedalam 10 cm dengan diameter 2,5 cm menggunakan kayu atau besi bulat yang steril. Pada ujung plastic yang terbuka dipasang cincin paralon/plastic, lalu disumpal dengan kapas atau kain perca.
Sterilisasi baglog
Sterilisasi dilakukan untuk membunuh mikroba dan jamur-jamur liar yang dapt menghambat pertumbuhan jamur utama. Sterilisasi dapt dilakukan dengan drum dengan ukuran 150 cm dengan diameter 60 cm. Langkah-langkah sterilisasi baglog :
1. Letakkan drum di atas tungku pemanas
2. Bagian dalam bawah drum diberi saringan pengukus menggunakan anyaman kawat menyerupai dandang. Lapisi bagian dalam drum dengan karung goni agar log tidak bersentuhan langsung dengan drum. Isi drum dengan air ± 20 liter.
3. Masukkan baglog dalam drum lalu tutup rapat.
4. Agar baglog benar-benar terbebas dari mikroba dan jamur liar maka pengukusan dilakukan 2x. Kukus selama 5 jam biarkan selama 24 jam lalu dikukus lagi 5 jam.
VI. Inokulasi
Baglog yang telah selesai disterilkan harus didinginkan terlebih dahulu selama ± 12 jam sampai suhunya mencapai 350 - 400C. Jika terlalu panas , bibit jamur yang diinokulasi tidak akan tumbuh. Proses inokulasi juga harus dilakukan dalam ruangan steril dan harus dilakukan dengan cepat, semakin cepat proses inokulasi semakin kecil kemungkinan bibit tercemar mikroba. Oleh karena itu, dibutuhkan dua orang, salah seorang memasukkan bibit dan yang lain bisa segera menutup baglognya.
Bahan-bahan yang perlu disiapkan :
1. Ruang tertutup yang tidak ada angin dari luar
2. Lampu (api) spiritus kecil
3. Bibit F3 jamur tiram
4. Pinset
5. Spiritus untuk bahan bakar
6. Alkohol 70% atau formalin 2% untuk sterilisasi
Langkah-langkah inokulasi:
1. Sterilkan ruang atau kotak tempat kita melakukan proses inokulasi dengan menyemprotkan disinfektan formalin 2% atau alkohol 70%.
2. Sterilkan tangan dan kaki kita dengan menyemprot seperti diatas.
3. Sterilkan pinset dengan memasukkannya ke dalam alkohol.
4. Karena bibit F3 dalam botol berbentuk padat maka kita harus meremukkannya terlebih dahulu dengan kayu atau besi yang sudah disterilkan.
5. Lakukan proses ini di dekat nyala api spiritus agar tetap steril.
6. Buka tutup baglog.
7. Orang pertama mengambil bibit F3 dari botol dengan pinset dan memasukkannya kedalam baglog.
8. Dengan cepat orang kedua menutup baglog lagi.
9. Satu botol bibit F3 dapat digunakan untuk 30 baglog.
VII. Inkubasi Baglog
Inkubasi yaitu tahap menumbuhkan miselium di dalam baglog. Inkubasi dilakukan dengan cara menyimpan baglog di dalam ruang inkubasi dengan suhu 220C – 280C. Baglog jamur diletakkan langsung di lantai ruang inkubasi dengan posisi berdiri, ditumpuk maksimal 3 tumpukan. Lama waktu inkubasi antara 30 – 50 hari. Tanda inkubasi yang berhasil bisa dilihat setelah dua minggu akan tumbuh miselium yang merambat ke bawah. Jika gagal maka harus diulang lagi dengan disterilisasi kembali dan diinokulasi ulang. Setelah 29 hari masa inkubasi, baglog sudah dapat dipindah ke dalam kumbung pembudidayaan.
B. PEMELIHARAAN
I. Memasukkan Baglog Ke Dalam Kumbung
· Kumbung sebelumnya harus disterilisasi satu hari sebelum baglog dimasukkan dengan menyemprotkan disinfektan formalin 0,5%.
· Susun baglog secara berdempetan ke dalam rak dengan posisi berdiri atau tidur.
II. Pembukaan Tutup Baglog
Dilakukan dengan membuka penutup baglog. Jamur akan tumbuh secara sporadis dan buah yang terbentuk akan menjadi banyak, besar, dan tinggi dengan batang yang panjang.
III. Menjaga Kebersihan Kumbung
· Senantiasa membersihkan lantai kumbung dari segala kotoran.
· Tidak membawa masuk makanan ke dalam kumbung.
· Segera keluarkan baglog yang bermasalah/terkena penyakit.
· Letakkan keset yang telah dibasahi dengan disinfektan karbol 2% atau kloros 2% di depan pintu.
IV. Pengaturan Suhu dan Kelembaban Kumbung
· Jamur tiram tumbuh pada suhu 200 – 300 C dan kelembaban minimal 80%.
· Untuk daerah dingin siram lantai dan dinding kumbung sehari dua kali, untuk daerah panas siram 3 – 4 kali sehari.
· Lakukan pengabutan air pada kumbung.
· Untuk menjaga kelembaban, sebagian petani jamur melapisi bagian dalam kumbung dengan kain dan membasahinya. Atau
· Dengan member pasir pada lantai kumbung. Pasir basah mampu menjaga kelembaban ruangan.
C. HAMA DAN PENYAKIT
I. Faktor Penyebab Terjangitnya Penyakit
· Sifat genetik jamur konsumsi yang lemah terhadap serangan penyakit.
· Komposisi bahan baglog yang digunakan merupakan tempat tumbuh yang disenangi serangga.
· Cara kerja yang tidak benar sangat mempengaruhi kualitas baglog.
· Jamur pengganggu dan serangga mudah berkembang biak pada suasana kumbung yang terlalu lembap dengan kadar cahaya yang sangat kurang.
II. Cara Pencegahan
· Dari segi bahan/material:
ü Jangan menggunakan serbuk kayu yang sudah terlalu lama karena dikhawatirkan mengandung serangga dan bakteri.
ü Bekatul yang sudah lama mengandung banyak serangga “bubuk”.
ü Pilih bibit yang tidak terlalu tua dan terlalu muda.
ü Jangan gunakan plastic yang terlalu tipis dan mudah bocor.
· Dari segi cara:
Patuhi car yang sudah diterangkan, terutama proses pengukusan dan inokulasi.
· Dari segi kumbung:
ü Kumbung harus sesuai syarat.
ü Jaga kebersihan kumbung.
ü Sesering mungkin memantau boglog, untuk mencegah kerusakan besar-besaran.
· Dari segi Penggunaan pembasmi hama:
ü Gunakan racun serangga seminimal mungkin. Sebelum mengaplikasikannya panen dulu semua jamur yang tumbuh.
ü Racun serangga untuk membasmi hama boleh digunakan, namun harus sesuai anjuran yang tertulis pada kemasan.
III. Jenis Penyakit Yang Sering Menyerang Jamur
1. Jamur Liar Hijau
Ø Jika terlihat saat umur 1 – 2 minggu setelah penanaman bibit, kemungkinan jamur liar berasal dari baglog.
Ø Jika terlihat 3 – 4 minggu kemungkinan penyebabnya adalah kondisi kumbung yang sudah tercemar.
Ø Jika terlihat setelah pemanenan kemungkinan besar penyebabnya adalah faktor eksternal seperti alat yang digunakan untuk mengorek baglog sehabis panen tidak steril atau dibawa oleh serangga/tikus.
2. Jamur Liar Hitam, penyebab:
Ø Pengukusan yang tidak sempurna sehingga spora jamur liar tidak mati.
Ø Jamur liar hitam biasa terdapat pada serbuk kayu yang terlalu lama (lebih dari bulan).
Ø Pengaturan udara yang kurang baik.
Ø Jamur liar hitam bisa berasal dari bibit/baglog atau dari baglog yang bocor.
3. Jamur Liar Oranye
Ciri jamur liar oranye adalah dari baunya yang sangat menyenagt. Pertumbuhan dimulai dengan pertumbuhan miselia berwarna putih pekat, kemudian disusul bunga jamur berwarna oranye. Penyebab belum dapat diketahui secara pasti.
IV. Mengatasi Penyakit yang Disebabkan Jamur Liar
1. Lakukan pencegahan sejak awal, dengan mengusahakan setiap tahapan budidaya jamur dilakukan dengan steril.
2. Sterilkan kumbung dengan menyemprotkan disinfektan formalin 0,5% sebelum media dimasukkan.
3. Jika baglog terkena penyakit kurang dari 2 minggu setelah tanam bibit, maka buang bibit yang sudah ditanam dan kukus ulang baglog selama ± 7 jam.
4. Jika belum terlau parah, maka cukup dipangkas bagian baglog yang tercemar jamur liar.
5. Singkirkan segera baglog yang terkena penyakit, masukkan ke dalam plastic dan ikat kencang agar spora-spora penyakit tidak merebak kemana-mana.
D. PANEN DAN PASCA PANEN
Dari bakal jamur mulai tumbuh sampai jamur tumbuh besar hanya membutuhkan waktu 4 – 5 hari. Pada waktu itu jamur sudah tumbuh sempurna dan harus segera dipanen. Panen yang terlambat akan mengakibatkan kualitas jamur serta harganya menurun. Panen pertama biasanya jamur berukuran besar dan banyak dengan berat lebih dari 150 gram. Tetapi, setelah panen ketiga dan seterusnya berat jamur panen rata-rata 50 gram. Baglog yang sudah dipanen akan bisa dipanen lagi setelah 10 – 15 hari.
Cara memanen jamur tiram :
1. Pemanenan sebaiknya dilakukansebelum puku 10.00 pagi atau sore sesudah pukul 16.00. Jika dilakukan siang hari maka berat jamur akan mengalami penyusutan karena panas.
2. Pegang jamur pada pangkal batang.
3. Goyang kiri kanan dan tarik perlahan, sehingga seluruh akar tertarik keluar.
4. Bersihkan pangkal batang jamur yang ada sisa grajen kayu dengan memotongnya.
5. Bersihkan sisa akar yang masih tertinggal pada baglog, karena akan membusuk dan menyebabkan keluarnya hama (ulat) dan mengganggu pertumbuhan jamur berikutnya.
Langkah membersihkan baglog setelah dipanen :
1. Baglog yang dibersihkan hanya yang terdapat sisa jamur setelah dipanen.
2. Sterilkan alat (pisau) yang akan digunakan dengan mencelupkan pada alcohol 70%.
3. Korek sisa jamur yang masih tertinggal di baglog sampai kelihatan serbuk kayunya.
4. Untuk baglog berdiri, umumnya petani melakukan pemangkasan baglog setebal 1 cm setelah pemanenan ke-3 dan panen berikutnya.
5. Untuk baglog tidur, panen pertama dan kedua jamur dibiarkan keluar dari depan. Setelah itu lubangi plastik baglog bagian belakang 1 cm sebagai tempat tumbuh jamur nantinya. Selanjutnya iris bagian depan dan bergantian hingga panen habis.
Pasca Panen
1. Bersihkan jamur dari semua kotoran yang menempel.
2. Kemas jamur dan pasarkan.
3. Jamur juga dapat dipasarkan dalam bentuk aneka olahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar